Showing posts with label Rafidhah. Show all posts
Showing posts with label Rafidhah. Show all posts

Monday, December 17, 2012

Membongkar Kesesatan Syi’ah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc.)

Serupa tapi tak sama. Barangkali ungkapan ini tepat untuk menggambarkan Islam dan kelompok Syi’ah. Secara fisik, memang sulit dibedakan antara penganut Islam dengan Syi’ah. Namun jika ditelusuri—terutama dari sisi akidah—perbedaan di antara keduanya ibarat minyak dan air. Sehingga tidak mungkin disatukan.
Apa Itu Syi’ah?

Syi’ah menurut etimologi bahasa Arab bermakna pembela dan pengikut seseorang. Selain itu juga bermakna: Setiap kaum yang berkumpul di atas suatu perkara. (Tahdzibul Lughah 3/61, karya Azhari dan Tajul Arus 5/405, karya az-Zabidi. Dinukil dari kitab Firaq Mu’ashirah, 1/31, karya Dr. Ghalib bin ‘Ali al-Awaji)

Adapun menurut terminologi syariat bermakna: Mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib z lebih utama dari seluruh sahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucu sepeninggal beliau. (al-Fishal fil Milali wal Ahwa wan Nihal, 2/113, karya Ibnu Hazm)
Syi’ah, dalam sejarahnya mengalami sejumlah pergeseran. Seiring dengan bergulirnya waktu, kelompok ini terpecah menjadi lima sekte yaitu Kaisaniyyah, Imamiyyah (Rafidhah), Zaidiyyah, Ghulat, dan Isma’iliyyah. Dari kelimanya, lahir sekian banyak cabang-cabangnya. (al-Milal wan Nihal, hlm. 147, karya asy-Syihristani)

Tampaknya, yang terpenting untuk diangkat pada edisi kali ini adalah sekte Imamiyyah atau Rafidhah, yang sejak dahulu hingga kini berjuang keras untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Dengan segala cara, kelompok sempalan ini terus-menerus menebarkan berbagai macam kesesatannya. Terlebih lagi kini didukung dengan negara Iran-nya.

Rafidhah رَافِضَة, diambil dari رَفَضَ – يَرْفُضُ yang menurut etimologi bahasa Arab bermakna تَرَكَ – يَتْرُكُ, meninggalkan (al-Qamus al-Muhith, hlm. 829).

Sedangkan dalam terminologi syariat bermakna: Mereka yang menolak imamah (kepemimpinan) Abu Bakr dan Umar c, berlepas diri dari keduanya, dan mencela sekaligus menghina para sahabat Nabi n. (Badzlul Majhud fi Itsbati Musyabahatir Rafidhati lil Yahud, 1/85, karya Abdullah al-Jumaili)

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata, “Aku telah bertanya kepada ayahku, siapa Rafidhah itu?” Maka beliau menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang mencela Abu Bakr dan Umar c.” (ash-Sharimul Maslul ‘Ala Syatimir Rasul hlm. 567, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t)

Sebutan “Rafidhah” ini erat kaitannya dengan Zaid bin ‘Ali bin Husain bin ‘Ali bin Abu Thalib dan para pengikutnya ketika memberontak kepada Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan di tahun 121 H. (Badzlul Majhud, 1/86)

Asy-Syaikh Abul Hasan al-Asy’ari  t berkata, “Zaid bin ‘Ali adalah seorang yang melebihkan ‘Ali bin Abu Thalib z atas seluruh sahabat Rasulullah n, mencintai Abu Bakr dan ‘Umar c, serta memandang bolehnya memberontak1 terhadap para pemimpin yang jahat. Maka ketika ia muncul di Kufah, di tengah-tengah para pengikut yang membai’atnya, ia mendengar dari sebagian mereka celaan terhadap Abu Bakr dan ‘Umar c. Ia pun mengingkarinya, hingga akhirnya mereka (para pengikutnya) meninggalkannya. Maka ia katakan kepada mereka:

رَفَضْتُمُوْنِي؟
“Kalian tinggalkan aku?”

Maka dikatakanlah bahwa penamaan mereka dengan Rafidhah dikarenakan perkataan Zaid kepada mereka “Rafadhtumuunii.” (Maqalatul Islamiyyin, 1/137)
Demikian pula yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t dalam Majmu’ Fatawa (13/36).

Rafidhah pasti Syi’ah, sedangkan Syi’ah belum tentu Rafidhah. Karena tidak semua Syi’ah membenci Abu Bakr dan ‘Umar sebagaimana keadaan Syi’ah Zaidiyyah.
Rafidhah sendiri terpecah menjadi beberapa cabang. Namun yang lebih ditonjolkan dalam pembahasan kali ini adalah al-Itsna ‘Asyariyyah.

Siapakah Pencetusnya?

Pencetus pertama bagi paham Syi’ah Rafidhah ini adalah seorang Yahudi dari negeri Yaman (Shan’a) yang bernama Abdullah bin Saba’ al-Himyari, yang menampakkan keislaman di masa kekhalifahan ‘Utsman bin Affan.2

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Asal ar-Rafdh ini dari munafiqin dan zanadiqah (orang-orang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran, pen). Pencetusnya adalah Abdullah bin Saba’ az-Zindiq. Ia tampakkan sikap ekstrem di dalam memuliakan ‘Ali, dengan suatu slogan bahwa ‘Ali yang berhak menjadi imam (khalifah) dan ia adalah seorang yang ma’shum (terjaga dari segala dosa, pen).” (Majmu’ Fatawa, 4/435)

Sesatkah Syi’ah Rafidhah ?
Berikut ini akan dipaparkan prinsip (akidah) mereka dari kitab-kitab mereka yang ternama, untuk kemudian para pembaca bisa menilai sejauh mana kesesatan mereka.

a.    Tentang Al-Qur’an

Di dalam kitab al-Kafi (yang kedudukannya di sisi mereka seperti Shahih al-Bukhari di sisi kaum muslimin), karya Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini (2/634), dari Abu Abdullah (Ja’far ash-Shadiq), ia berkata, “Sesungguhnya Al-Qur’an yang dibawa Jibril kepada Muhammad (ada) 17.000 ayat.”

Di dalam Juz 1, hlm. 239—240, dari Abu Abdillah ia berkata, “…Sesungguhnya di sisi kami ada mushaf Fathimah ‘alaihassalam. Mereka tidak tahu apa mushaf Fathimah itu. Abu Bashir berkata, ‘Apa mushaf Fathimah itu?’ Ia (Abu Abdillah) berkata, ‘Mushaf tiga kali lipat dari apa yang terdapat di dalam mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari Al-Qur’an kalian…’.” (Dinukil dari kitab asy-Syi’ah wal Qur’an, hlm. 31—32, karya Ihsan Ilahi Zhahir)

Bahkan salah seorang “ahli hadits” mereka yang bernama Husain bin Muhammad at-Taqi an-Nuri ath-Thabrisi telah mengumpulkan sekian banyak riwayat dari para imam mereka yang ma’shum (menurut mereka), di dalam kitabnya Fashlul Khithab fii Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab, yang menjelaskan bahwa Al-Qur’an yang ada ini telah mengalami perubahan dan penyimpangan.

b.    Tentang sahabat Rasulullah n

Diriwayatkan oleh “imam al-jarh wat ta’dil” mereka (al-Kisysyi) di dalam kitabnya Rijalul Kisysyi (hlm. 12—13) dari Abu Ja’far (Muhammad al-Baqir) bahwa ia berkata, “Manusia (para sahabat) sepeninggal Nabi, dalam keadaan murtad kecuali tiga orang,” maka aku (rawi) berkata, “Siapakah tiga orang itu?” Ia (Abu Ja’far) berkata, “Al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi…” kemudian menyebutkan surat Ali Imran ayat ke-144. (Dinukil dari asy-Syi’ah al-Imamiyyah al-Itsna ‘Asyariyyah fi Mizanil Islam, hlm. 89)

Ahli hadits mereka, Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini berkata, “Manusia (para sahabat) sepeninggal Nabi dalam keadaan murtad kecuali tiga orang: al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi.” (al-Kafi, 8/248, dinukil dari asy-Syi’ah wa Ahlil Bait, hlm. 45, karya Ihsan Ilahi Zhahir)

Demikian pula yang dinyatakan oleh Muhammad Baqir al-Husaini al-Majlisi di dalam kitabnya Hayatul Qulub, 3/640. (Lihat kitab asy-Syi’ah wa Ahlil Bait, hlm. 46)

Adapun sahabat Abu Bakr dan ‘Umar c, dua manusia terbaik setelah Rasulullah n, mereka cela dan laknat. Bahkan berlepas diri dari keduanya merupakan bagian dari prinsip agama mereka. Oleh karena itu, didapati dalam kitab bimbingan doa mereka (Miftahul Jinan, hlm. 114), wirid laknat untuk keduanya:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ، وَالْعَنْ صَنَمَيْ قُرَيْشٍ وَجِبْتَيْهِمَا وَطَاغُوْتَيْهِمَا وَابْنَتَيْهِمَا

“Ya Allah, semoga shalawat selalu tercurahkan kepada Muhammad dan keluarganya, laknatlah kedua berhala Quraisy (Abu Bakr dan Umar), setan dan thaghut keduanya, serta kedua putri mereka….”

Yang dimaksud dengan kedua putri mereka adalah Ummul Mukminin ‘Aisyah dan Hafshah c (pen.). (Dinukil dari kitab al-Khuthuth al-‘Aridhah, hlm. 18, karya as-Sayyid Muhibbuddin al-Khatib)

Mereka juga berkeyakinan bahwa Abu Lu’lu’ah al-Majusi, si pembunuh Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab z, adalah seorang pahlawan yang bergelar “Baba Syuja’uddin” (seorang pemberani dalam membela agama). Hari kematian ‘Umar dijadikan sebagai hari “Iedul Akbar”, hari kebanggaan, hari kemuliaan, kesucian, hari barakah, serta hari sukaria. (al-Khuthuth al-‘Aridhah, hlm. 18)

Adapun ‘Aisyah dan para istri Rasulullah n lainnya, mereka yakini sebagai pelacur—na’udzu billah min dzalik—. Sebagaimana yang terdapat dalam kitab mereka Ikhtiyar Ma’rifatir Rijal (hlm. 57—60) karya ath-Thusi, dengan menukilkan (secara dusta) perkataan sahabat Abdullah bin ‘Abbas c terhadap ‘Aisyah x, “Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah….” (Dinukil dari kitab Daf’ul Kadzibil Mubin al-Muftara Minarrafidhati ‘ala Ummahatil Mukminin, hlm. 11, karya Dr. Abdul Qadir Muhammad ‘Atha)

Demikianlah, betapa keji dan kotornya mulut mereka. Oleh karena itu, al-Imam Malik bin Anas t berkata, “Mereka itu adalah suatu kaum yang berambisi untuk menghabisi Nabi n namun tidak mampu. Maka akhirnya mereka cela para sahabatnya agar kemudian dikatakan bahwa ia (Nabi Muhammad n ) adalah seorang yang jahat. Karena, kalau memang ia orang saleh, niscaya para sahabatnya adalah orang-orang saleh.” (ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimirrasul, hlm. 580)

c. Tentang imamah (kepemimpinan umat)

Imamah menurut mereka merupakan rukun Islam yang paling utama3. Diriwayatkan dari al-Kulaini dalam al-Kafi (2/18) dari Zurarah dari Abu Ja’far, ia berkata, “Islam dibangun di atas lima perkara:… shalat, zakat, haji, shaum, dan wilayah (imamah)…” Zurarah berkata, “Aku katakan, mana yang paling utama?” Ia berkata, “Yang paling utama adalah wilayah.” (Dinukil dari Badzlul Majhud, 1/174)
Imamah ini (menurut mereka, red.) adalah hak ‘Ali bin Abu Thalib z dan keturunannya, sesuai dengan nash wasiat Rasulullah n. Adapun selain mereka (Ahlul Bait) yang telah memimpin kaum muslimin, seperti Abu Bakr, ‘Umar, dan yang sesudah mereka hingga hari ini, walaupun telah berjuang untuk Islam, menyebarkan dakwah dan meninggikan kalimatullah di muka bumi, serta memperluas dunia (wilayah) Islam, maka sesungguhnya mereka hingga hari kiamat adalah para perampas (kekuasaan). (Lihat al-Khuthuth al-‘Aridhah, hlm. 16—17)

Mereka pun berkeyakinan bahwa para imam ini ma’shum (terjaga dari segala dosa) dan mengetahui hal-hal yang ghaib. al-Khumaini (Khomeini) berkata, “Kami bangga bahwa para imam kami adalah para imam yang ma’shum, mulai ‘Ali bin Abu Thalib hingga Penyelamat Umat manusia al-Imam al-Mahdi, sang penguasa zaman—baginya dan bagi nenek moyangnya beribu-ribu penghormatan dan salam—yang dengan kehendak Allah Yang Mahakuasa, ia hidup (pada saat ini) seraya mengawasi perkara-perkara yang ada.” (al-Washiyyah al-Ilahiyyah, hlm. 5, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/192)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t dalam kitabnya Minhajus Sunnah, benar-benar secara rinci membantah satu per satu kesesatan-kesesatan mereka, terkhusus masalah imamah yang selalu mereka tonjolkan ini.

d.    Tentang taqiyyah

Taqiyyah adalah berkata atau berbuat sesuatu yang berbeda dengan keyakinan, dalam rangka nifaq (kemunafikan), dusta, dan menipu umat manusia. (Lihat Firaq Mu’ashirah, 1/195 dan asy-Syi’ah al-Itsna ‘Asyariyyah, hlm. 80)

Mereka berkeyakinan bahwa taqiyyah ini bagian dari agama. Bahkan sembilan per sepuluh agama. Al-Kulaini meriwayatkan dalam al-Kafi (2/175) dari Abu Abdillah, ia berkata kepada Abu Umar al-A’jami, “Wahai Abu ‘Umar, sesungguhnya 9/10 dari agama ini adalah taqiyyah. Tidak ada agama bagi siapa saja yang tidak ber-taqiyyah.” (Dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/196)

Oleh karena itu, al-Imam Malik t ketika ditanya tentang mereka, beliau berkata, “Jangan kamu berbincang dengan mereka dan jangan pula meriwayatkan dari mereka, karena sungguh mereka itu selalu berdusta.”

Demikian pula al-Imam asy-Syafi’i t berkata, “Aku belum pernah tahu ada yang melebihi Rafidhah dalam persaksian palsu.” (Mizanul I’tidal, 2/27—28, karya al-Imam adz-Dzahabi t)

e.    Tentang Raj’ah

Raj’ah adalah keyakinan hidupnya kembali orang yang telah meninggal. ‘Ahli tafsir’ mereka, al-Qummi ketika menafsirkan surat an-Nahl ayat 85, berkata, “Yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah raj’ah.” Kemudian dia menukil dari Husain bin ‘Ali bahwa ia berkata tentang ayat ini, ‘Nabi kalian dan Amirul Mukminin (‘Ali bin Abu Thalib z) serta para imam ‘alaihimus salam akan kembali kepada kalian’.” (Dinukil dari kitab Atsarut Tasyayyu’ ‘alar Riwayatit Tarikhiyyah, hlm. 32, karya Dr. Abdul ‘Aziz Nurwali)

f.    Tentang al-Bada’

Al-Bada’ adalah mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui. Mereka berkeyakinan bahwa al-Bada’ ini terjadi pada Allah l. Bahkan mereka berlebihan dalam hal ini. Al-Kulaini dalam al-Kafi (1/111), meriwayatkan dari Abu Abdillah (ia berkata), “Tidak ada pengagungan kepada Allah yang melebihi al-Bada’.” (Dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/252)

Suatu keyakinan kafir yang sebelumnya diyakini oleh Yahudi4.
Demikianlah beberapa dari sekian banyak prinsip Syi’ah Rafidhah, yang darinya saja sudah sangat jelas kesesatan dan penyimpangannya. Namun sayang, tanpa rasa malu al-Khumaini (Khomeini) berkata, “Sesungguhnya dengan penuh keberanian aku katakan bahwa jutaan masyarakat Iran di masa sekarang lebih utama dari masyarakat Hijaz (Makkah dan Madinah, pen.) di masa Rasulullah n, serta lebih utama dari masyarakat Kufah dan Irak di masa Amirul Mukminin (‘Ali bin Abu Thalib) dan Husein bin ‘Ali.” (al-Washiyyah al-Ilahiyyah, hlm. 16, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, hlm. 192)

Perkataan Ulama tentang Syi’ah Rafidhah

Asy-Syaikh Dr. Ibrahim ar-Ruhaili di dalam kitabnya al-Intishar Lish Shahbi wal Aal (hlm. 100—153) menukilkan sekian banyak perkataan ulama tentang mereka. Namun karena sangat terbatasnya ruang rubrik ini, maka hanya bisa ternukil sebagiannya saja.

1.    Al-Imam ‘Amir asy-Sya’bi t berkata, “Aku tidak pernah melihat kaum yang lebih dungu dari Syi’ah.” (as-Sunnah, 2/549, karya Abdullah bin al-Imam Ahmad)

2.    Al-Imam Sufyan ats-Tsauri t ketika ditanya tentang seseorang yang mencela Abu Bakr dan ‘Umar c, beliau berkata, “Ia telah kafir kepada Allah l.” Kemudian ditanya, “Apakah kita menshalatinya (bila meninggal dunia)?” Beliau berkata, “Tidak, tiada kehormatan (baginya)….” (Siyar A’lamin Nubala, 7/253)

3.    Al-Imam Malik dan al-Imam Asy-Syafi’i rahimahumallah, telah disebut di atas.

4.    Al-Imam Ahmad bin Hanbal t berkata, “Aku tidak melihat dia (orang yang mencela Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Aisyah g) itu sebagai orang Islam.” (as-Sunnah, 1/493, karya al-Khallal)

5.    Al-Imam al-Bukhari t berkata, “Bagiku sama saja apakah aku shalat di belakang Jahmi (penganut Jahmiyah, red.) dan Rafidhi (penganut Syiah Rafidhah, red.), atau di belakang Yahudi dan Nashara (yakni sama-sama tidak boleh, red.). Mereka tidak boleh diberi salam, tidak dikunjungi ketika sakit, tidak dinikahkan, tidak dijadikan saksi, dan tidak dimakan sembelihan mereka.” (Khalqu Af’alil ‘Ibad, hlm. 125)

6.    Al-Imam Abu Zur’ah ar-Razi  t berkata, “Jika engkau melihat orang yang mencela salah satu dari sahabat Rasulullah n, maka ketahuilah bahwa ia seorang zindiq. Yang demikian itu karena Rasul bagi kita adalah haq dan Al-Qur’an haq, dan sesungguhnya yang menyampaikan Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah para sahabat Rasulullah n. Sungguh mereka mencela para saksi kita (para sahabat) dengan tujuan untuk meniadakan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mereka (Rafidhah) lebih pantas untuk dicela dan mereka adalah zanadiqah (orang-orang zindiq).” (al-Kifayah, hlm. 49, karya al-Khathib al-Baghdadi t)

Demikianlah selayang pandang tentang Syi’ah Rafidhah, mudah-mudahan bisa menjadi pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk bagi pencari kebenaran. Amin.
Wallahu a’lam bish-shawab.

1 Pandangan ini tentunya bertentangan dengan ajaran Rasulullah n sebagaimana yang terdapat dalam banyak sabda beliau, di antaranya dalam Shahih Muslim, “Kitabul Imarah”.
2 Untuk lebih rincinya tentang Abdullah bin Saba’, lihat al-Kamil fit Tarikh, 3/154, karya Ibnul Atsir, al-Bidayah wan Nihayah, 7/176, karya Ibnu Katsir, dan Badzlul Majhud fi Itsbati Musyabahatir Rafidhati lil Yahudi, karya Abdullah al-Jumaili, 1/98—164.
3 Menurut mereka, rukun Islam juga ada lima, akan tetapi mereka mengganti dua kalimat syahadat dengan imamah.
4 Secara jujur, ada kemiripan antara prinsip (akidah) mereka dengan prinsip (akidah) Yahudi, sebagaimana yang dinyatakan oleh para ulama. Untuk lebih rincinya, lihat kitab Badzlul Majhud fi Itsbati Musyabahatir Rafidhati lil Yahud, karya Abdullah al-Jumaili.

Sepak Terjang Syi’ah di Indonesia

(Oleh: Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat)

Perjalanan kaum Syi’ah di negeri ini semakin jelas. Dimulai ketika terjadi revolusi Iran yang mengantarkan ajaran atau (tepatnya disebut) dîn (agama) Syi’ah menguasai Iran sebagai agama penguasa setelah pemerintahan Reza Pahlevi runtuh. Setelah terjadi revolusi di Iran di penghujung tahun 1979, mereka mulai menyebarkan ajaran mereka keseluruh negeri Islam dengan mengatas-namakan dakwah Islam. Terutama ke negeri Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah kaum Muslimin.

Ada tiga faktor yang menyebabkan Syi’ah mudah masuk ke Indonesia. Yaitu:

Pertama, kaum Muslimin terbelakang dalam pemahaman terhadap aqidah Islam yang shahîhah (benar) yang berdasarkan al-Qur’ân dan Sunnah.

Kedua, mayoritas kaum Muslimin pada saat itu sangat jauh dari manhaj Salafush Shâlih. Mereka hanya sekedar mengenal nama yang agung ini, namun dari sisi pemahaman pengamalan dan dakwah jauh sekali dari pemahaman dan praktek Salaful Ummah (generasi terbaik umat Islam). Memang ada sebagian kaum Muslimin yang menyeru kepada al-Qur’ân dan Sunnah, tetapi menurut pemahaman masing-masing tanpa ada satu metode yang akan mengarahkan dan membawa mereka kepada pemahaman yang shahîh (benar).

Ketiga, kebanyakan kaum Muslimin termasuk tokoh-tokoh mereka di negeri ini kurang paham atau tidak paham sama sekali tentang ajaran Syi’ah yang sangat berbahaya terhadap Islam dan kaum Muslimin, bahkan bagi seluruh umat manusia. Pemahaman mereka terhadap ajaran Syi’ah sebatas Syi’ah sebagai madzhab fiqh, sebagaimana madzhab-madzhab yang ada dalam Islam yang merupakan hasil ijtihad para ulama seperti Imam Syafi’i, Abu Hanîfah, Mâlik, dan Ahmad dan lain-lain.

Mereka mengira perbedaan antara Syi’ah dengan madzhab yang lain hanya pada masalah khilâfiyah furû’iyyah (perbedaan kecil). Oleh karena itu, sering kita dengar, para tokoh Islam di negeri kita ini mengatakan bahwa tidak ada perbedaan antara kita dengan Syi’ah kecuali sekedar perbedaan furu’iyyah.

Dengan tiga sebab ini, Syi’ah bisa masuk ke negeri ini dan mempengaruhi sebagian kaum muslimin. Mereka menamakan perjuangan mereka perjuangan islam untuk menegakan Daulah Islamiyah.[1] Padahal pada hakekatnya untuk menegakan Daulah Râfidhah.

Mereka hendak menyebarkan dan mendakwahkan ajaran mereka. Karena dalam pandangan mereka, tidak ada hukum Islam kecuali yang diambil dari ajaran ini (Syi’ah) dan ditegakkan oleh mereka.

Khomaini, pemimpin mereka telah menulis beberapa kitab. Tiga diantara kitab-kitab ini menjelaskan dengan gamblang kepada kita tentang jati diri penulis dan para pengikutnya. Tiga kitab itu adalah:
  1. Kitab Hukumâtul Islamiyah
  2. Kitab Tahrîrul Wasîlah
  3. Kitab Jihâdun Nafs atau dengan judul Jihâdul Akbar.
Dalam tiga kitab ini, khususnya dalam kitab Hukumâtul Islamiyah, Khomaini secara tegas tanpa taqiyyah menyatakan beberapa hal penting sebagai dasar pada agama mereka. Diantaranya dua hal yang sangat mendasar yaitu:
  • Tidak ada hukum kecuali hukum Syi’ah. Jadi yang dimaksudkan dengan Hukumatul Islamiyah adalah hukum Râfidhah.
  • Tidak ada negeri islam kecuali yang ditegakkan oleh mereka.
Karena itu mereka menyeru agar kaum Muslimin mengikuti mereka. Berbagai upaya dilakukan, misalnya mengirimkan dai-dai ke seluruh negeri-negeri Islam atau dengan istilah pertukaran pelajar, atau cendekiawan, mempertemukan tokoh-tokoh mereka dengan tokoh-tokoh kaum Muslimin untuk mempersatukan Islam. Sebuah tanda tanya besar! Padahal yang diinginkan adalah agar kaum Muslimin mengikuti mereka.

Dalam kitab Hukumâtul Islamiyah juga, Khomaini dengan tegas mengatakan bahwa derajat imam-imam mereka lebih tinggi dari derajat para Nabi dan Rasul bahkan para Malaikat. Dalam kitab itu juga, Khomaini tidak mengenal Daulah Islamiyah kecuali yang ditegakkan oleh Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam dan Ali bin Abi Thalib radhiyallâhu’anhu, adapun tiga khalifah sebelum Ali radhiyallâhu’anhu yaitu Abu Bakar radhiyallâhu’anhu, Umar radhiyallâhu’anhu, dan Utsman radhiyallâhu’anhu tidak dianggap sebagai kaum Muslimin.

Bahkan dalam kitab Jihâdul Akbar, Khomaini dengan tegas melaknat sahabat agung, penulis wahyu, ipar Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam dan pamannya kaum Muslimin yaitu Mu’âwiyah bin Abi Sufyân radhiyallâhu’anhu. Khomaini mengatakan bahwa Mu’âwiyahradhiyallâhu’anhu terlaknat di dunia dan di akhirat dengan mendapat adzab di akhirat. Seolah-olah dengan perkataannya ini, dia mengetahui perkara yang ghaib. Apakah Allâh Ta’âla telah mengikat perjanjian dengan dia? Apakah Allâh Ta’âla telah memberikan berita ghaib kepadanya? Sehingga dengan tegas dia berani mengucapkan perkataan ini?

Ini menunjukkan betapa kuat kebencian dan dendamnya yang membara kepada para pembesar kaum Muslimin yaitu para Sahabat radhiyallâhu’anhum. Oleh karena itu, ketika mengetahui perkataan-perkataan Khomaini dalam ketiga kitabnya tersebut, sebagian tokoh kaum Muslimin berbalik dan menyadari bahwa apa yang disuarakan “Persatuan dan Kesatuan Umat Islam”, “Tidak ada perbedaan antara mereka kecuali masalah furu’ saja”, semuanya adalah kebohongan.

AJARAN SYI’AH MASUK INDONESIA

Diawal tahun 1980, ajaran Syi’ah mulai masuk ke Indonesia, walaupun (sebatas yang saya ketahui) ketika itu, pemerintah awalnya menolak kedatangan tokoh-tokoh Syi’ah ke Indonesia untuk memperkenalkan ajaran mereka. Tetapi ada beberapa tokoh di Indonesia ini yang sangat berjasa bagi kelompok Rafidhah ini, diantaranya ada dua orang tokoh.

Keduanya berhasil meyakinkan pemerintah bahwa yang datang ini bukanlah murid-murid Khomaini tetapi lawan-lawannya serta mereka tidak membawa ajaran Khomaini. Pemerintah yang memang tidak paham ajaran Syi’ah[2], akhirnya memberikan ijin. Sejak itu, masuklah ajaran Syi’ah ke negeri kita ini.

Secara pribadi, ketika itu, saya (penulis) telah mengingatkan kepada sebagian ustadz dan kaum Muslimin bahwa kalau kita tidak menjelaskan masalah Syi’ah ini kepada ummat, maka ajarannya akan berkembang dan masuk ke berbagai lapisan masyarakat. Namun, sangat disesalkan, mereka tidak mengindahkannya dan tetap menganggap perbedaan antara kita dengan Syi’ah hanya dalam masalah furu’iyyah.
Padahal perbedaan kita dengan Syi’ah Râfidhah adalah perbedaan ushûl (pokok-pokok agama) dan furu’ yang keduanya tidak mungkin disatukan kecuali kalau salah satunya meninggalkan ajaran agamanya. Di antara perbedaan ushûl (pokok) yang sangat mendasar sekali yang kalau diyakini oleh seseorang maka akan menyebabkan seorang itu murtad yaitu :

Pertama; keyakinan mereka bahwa al-Quran yang ada ditangan kaum muslimin saat ini, yang dibaca, yang dihafal dan diyakini sebagai kitabullâh yang diwahyukan kepada hambaNya dan RasulNya Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam melalui perantara Malaikat jibril ‘alaihissalam , telah tidak asli lagi.

Menurut Syi’ah, al-Qur’ân telah dirubah, atau dikurangi oleh para sahabat yang dipimpin oleh tiga sahabat mulia yaitu Abu Bakar, Umar, dan Utsmân dan para sahabat lainnya -radhiyallâhu’anhum-. Keyakinan ini bisa menghancurkan seluruh isi al-Qur’ân, karena Allâh Ta’âla telah berfirman :
(Qs al Hijr/15:9)
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Quran,
dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya

(Qs al Hijr/15:9)

Sedangkan ajaran Râfidhah yang terus-menerus mereka katakan sampai saat ini, baik dengan lisan maupun tulisan bahwa al-Qur’ân yang asli adalah al-Qur’ân yang tiga kali lebih besar dan sangat berbeda dibandingkan al-Qur’ân yang ada ditangan kaum muslimin saat ini. Menurut mereka Al-Qur’an yang asli ini nanti akan dibawa oleh Imam Mahdi dan dinamakan Mushaf Fathimah.

Ini keyakinan mereka, walaupun sebagian mereka mengingkarinya tetapi pengingkaran itu hanya omong kosong karena ini merupakan taqiyah mereka. Kalau keyakinan ini diyakini oleh kaum muslimin maka tidak diragukan lagi bahwa dia telah murtad, keluar dari agama Islam.

Kedua; Pengkafiran mutlak terhadap seluruh sahabat, seperti Abu Bakar as-Shiddîqradhiyallâhu’anhu, Umar al-Fârûq radhiyallâhu’anhu, Utsmân Dzunnûrain radhiyallâhu’anhu dan seluruh sahabat Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam kecuali beberapa sahabat yang jumlahnya sangat sedikit.

Meyakini ini berarti membantah isi al-Qur’ân yang menyatakan keimanan dan kebesaran para sahabat serta keridhaan Allâh Ta’âla terhadap mereka. Kalau seorang muslim dan muslimah meyakini keyakinan ini (pengkafiran mutlak terhadap seluruh sahabat, kecuali beberapa sahabat) berarti mereka telah murtad, keluar dari Islam.

Kedua keyakinan Râfidhah ini tidak mungkin disatukan dengan keyakinan yang ada dalam Islam. Artinya, tidak mungkin seorang muslim dan seorang Râfidhi (Penganut agama Syi’ah) bersatu, karena keyakinannya sangat berbeda. Ini berdasarkan dalil naqliyah dan aqliyah yang shahih yang memiliki ketegasan.

Oleh karena itu para ulama zaman dahulu menyatakan bahwa orang yang paling bodoh terhadap dalil dalil naqliyah dan aqliyah serta paling sesat jalannya diantara orang-orang mengaku Islam adalah Syi’ah atau Rafidhah ini. Karena dengan tegas, mereka membenarkan apa yang didustakan dengan dalil-dalil naqliyah sam’iyah (dalil-dalil dari al-Qur’an dan sunnah) dan juga yang didustakan oleh akal.
Sebaliknya, mereka mendustakan apa yang jelas dan terang telah datang dari dalil-dalil naqliyah sam’iyah dan berdasarkan akal yang shahih. (Minhâjus Sunnah, 1/8)

Ketiga, perbedaan ushûl lainnya adalah penyembahan terhadap manusia. Diantara orang-orang yang menisbatkan diri kepada Islam, yang pertama kali membangun kubur-kubur dan kubah-kubah adalah kaum Râfidhah. Mereka mengadakan peribadatan kepada selain Allâh Ta’âla. Padahal ini sangat diharamkan dalam Islam dan merupakan syirik besar.

Mewakili pengikutnya, Khomaini dalam bukunya “Hukûmâtul Islâmiyah”, halaman 52 mengatakan:

“Sesungguhnya sesuatu yang pasti dari madzhab kami bahwa imam-imam kami memiliki kedudukan yang tidak bisa dicapai oleh seorangpun, baik seorang rasul yang diutus maupun oleh malaikat yang dekat.”

Ini pernyataan tegas Khomaini. Ini menunjukkan sikap ghuluw mereka terhadap para imam mereka, yang mereka klaim memiliki derajat yang lebih tinggi dari para nabi dan rasul.

Dalam kitab yang sama, Khomaini menyatakan bahwa imam mereka tidak pernah lupa dan lalai. Padahal ini adalah sifat Allâh Ta’âla, karena hanya Allâh Ta’âla yang tidak pernah lupa dan lalai.

Allâh Ta’âla berfirman :
(Qs Maryam/19:64)
Dan Rabbmu tidaklah lupa. 
(Qs Maryam/19:64)

Ini merupakan salah satu bentuk penyembahan terhadap makhluk. Sikap ini tidak mungkin bisa disatukan dengan seorang muslim yang beraqidah shahih, yang bermanhaj dengan manhaj salaful ummah, yang hanya ruku’ dan sujud kepada Allâh Ta’âla, yang meminta pertolongan hanya kepada Allâh Ta’âla.

Oleh karena itu mereka membangun kuburan dan merekalah yang pertama kali memasukkan penyembahan terhadap kubur ke dalam Islam, membangunnya serta mendirikan kubah-kubah. Itulah beberapa ushûl (masalah pokok) diantara banyak ushûl lainnya yang membedakan Râfidhah (Syi’ah) dengan Islam sehingga tidak mungkin disatukan kecuali salah satunya meninggalkan agamanya.

Masalah ini sering tidak diketahui oleh tokoh-tokoh kaum muslimin khususnya di negeri kita ini. Karena Syi’ah selalu menyembunyikan keyakinan-keyakinan mereka kepada orang-orang yang belum menjadi pengikut setia mereka.

PERKEMBANGAN SYI’AH DI INDONESIA

Kurang lebih 30 tahun sudah berlalu sejak mulai menancapkan kukunya di Indonesia, kini kaum Râfidhah terutama di negeri kita ini telah berani memperlihatkan sebagian ajaran mereka secara terang-terangan. Ini mereka lakukan secara bertahap. Cara-cara mereka dalam memberikan pengajaran sangat halus dan awalnya tidak diketahui. Saya sebutkan diantaranya :

Pertama, mereka mengatasnamakan diri ahlul bait (keluarga) Nabi. Padahal pada hakekatnya, mereka telah berbohong atas nama ahlul bait[3]. Kita tahu bahwa kaum muslimin, terutama di Indonesia sangat mencintai ahlul bait tetapi kecintaan yang tidak berdasarkan ilmu tentang siapa ahlul bait ? Apa manhaj mereka ?

Kecintaan seperti ini bisa menyeret seseorang kepada kultus dan al-ghuluw (berlebih-lebihan). Hal inilah yang diinginkan Syi’ah. Oleh karena itu, orang yang menyerang Syi’ah selalu dituduh benci kepada ahlul bait. Dan para pendahulu-pendahulu mereka seperti kaum Qarâmithah, Isma’iliyah, Bathiniyah telah membuat beberapa ajaran yang disusupkan ke tengah-tengah kaum muslimin untuk mendukung madzhab mereka. Diantaranya adalah perayaaan maulid Nabi.

Merekalah yang membuat acara ini pertama kali, bukan Sulthan Shalahuddin al-Ayyubi. Menisbatkan perayaan maulid kepada Shalahuddin adalah penyimpangan, penipuan dalam sejarah.[4]

Cinta ahlul bait adalah merupakan keyakinan Islam. Kita mencintai keluarga Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam sesuai dengan syariat Allâh dan Rasulnya, tidak ditambah dan tidak dikurangi, tidak mengadakan penyembahan terhadap ahlul bait. Kita meyakini bahwa tidak ada yang ma’shûm (bebas dari dosa dan kesalahan) kecuali Nabi yang mulia. Jadi kecintaan kita tetap dalam batasan-batasan Islam bukan sebagaimana yang dikatakan oleh Syi’ah.

Kedua, dalam memberikan pengajaran, mereka menggunakan ayat-ayat al-Qur’ân, tafsir-tafsir al-Qur’ân tidak melalui hadits atau sunnah. Karena mereka jauh sekali dari sunnah Nabishallallâhu ‘alaihi wasallam bahkan mereka menolak hadits. Bagaimana mungkin mereka bisa menerima hadits Bukhâri, Muslim dan lain-lain sementara para sahabat yang meriwayatkan hadits-hadits ini dianggap kafir ?! Mereka juga menvonis kufur kepada ahlus sunnah termasuk Bukhâri, Muslim dan ulama ahli hadits lainnya. Oleh karena itu, mereka selalu memulainya dengan tafsir dengan meruju’ ke kitab-kitab tafsir Syi’ah[5].

Melalui kajian tafsir-tafsir al-Qur’ân yang awalnya biasa tapi lama-kelamaan menjadi aneh, karena seluruh ayat al-Qur’ân mereka tafsirkan dengan penafsiran mereka. Mereka selalu membuka kajian tafsir al-Qur’ân, tidak ada yang membuka kajian shahih Bukhâri kecuali untuk di hina, di kritik dan selanjutnya di tolak. Mereka mulai menafsirkan, ini untuk Ali radhiyallâhu’anhudan siksaan ini untuk Abu Bakar radhiyallâhu’anhu dan lain sebagainya. Walaupun pada awalnya, mereka belum menyebut nama Abu Bakar, Umar dan Utsman radhiyallâhu’anhumkarena ketiga shahabat ini memiliki kedudukan tinggi di hati kaum muslimin termasuk Ali bin Abi Thalib radhiyallâhu’anhu.

Syi’ah menempuh cara-cara kaum zindiq yaitu meninggikan sebagian dan merendahkan sebagian dalam waktu yang bersamaan agar mereka dapat menghancurkan secara keseluruhan. Mereka meninggikan Ali bin Abi Thalib radhiyallâhu’anhu setinggi-tingginya sampai disamakan dengan Rabbul a’lamin sementara mereka merendahkan Abu Bakar, Umar, Utsmanradhiyallâhu’anhum dan hampir seluruh para sahabat Rasûlullâh dengan serendah-rendahnya.

Ketiga, mengkritik sebagian sahabat. Mereka mulai dari Abu Hurairah radhiyallâhu’anhukemudian yang lainnya sampai hampir seluruh para sahabat. Untuk mencapai tujuan ini, di negeri kita mereka memerlukan waktu bertahun-tahun. Sehingga saat ini, Abu Bakar As-Shiddiq, Umar al-Fârûq, Utsmân Dzunûrain, mereka hinakan dan kafirkan secara terang-terangan. Bahkan tersebar selebaran yang mengkafirkan sayyidah Aisyah radhiyallâhu’anha dan para sahabat lainnya.

Mereka memasukan berbagai macam syubhat kepada kaum muslimin lalu mulai mengklasifikasikan para sahabat menjadi yang betul-betul sahabat Nabi dan yang munafiq. Selanjutnya dibawakan sebagian ayat-ayat al-Qur’ân sehingga sebagian kaum muslimin yang mengikuti majelis mereka terpengaruh dan tidak memperdulikan serta tidak lagi memakai ijmâ’ para ulama mengenai para shahabat, yaitu semua para sahabat adalah adil.

Keempat, mengkritik hadits-hadits. Awalnya, mereka mengkritik satu atau dua buah hadits dalam Shahîh Bukhâri yang dinyatakan tidak sah, mustahil atau dusta. Semua justifikasi ini berdasarkan akal dan ra’yu mereka yang jahil. Dan itulah salah satu sifat mereka, mengkritik, membantah, dan menolak tanpa hujjah.

Oleh karena itu ahlus sunnah menyatakan bahwa bantahan dan penolakan semata bukanlah ilmu. Ilmu adalah memberikan jawaban secara ilmiyah, membantah secara ilmiyah dengan menegakkan hujjah yang selanjutnya menyelesaikan permasalahan. Ini yang disebut ilmu. Adapun semata-mata menolak, mungkin anak-anak yang telah tamyiz mampu melakukannya.

Inipun mereka lakukan secara bertahap serta membutuhkan waktu yang cukup lama. Mereka mengkritik dan menolak hadits-hadits riwayat Bukhâri dan Muslim. Tapi anehnya, apabila ada hadits yang menguatkan madzhab mereka, mereka memakainya padahal mereka telah mengkafirkan Imam Bukhâri dan Muslim !?

Kelima, memberikan kesan bahwa bahwa Syi’ah merupakan madzhab yang kelima dalam Islam dan perbedaan mereka adalah perbedaan furu’iyah, ijtihadiyah, ilmiyah secara global tanpa ta’shîl (penegakan terhadap hujjah) dan tafshîl (terperinci) sehingga ini juga mempengaruhi kaum Muslimin.

Keenam, mendakwahkan ajaran yang sangat menarik bagi orang-orang memiliki penyakit hati yaitu nikah mut’ah. Nikah mut’ah (kontrak) tanpa wali tanpa saksi kecuali dengan mahar pemberian dan ada ikatan perjanjian antara kedua pihak laki dan wanita. Biasanya dilakukan selepas majelis mereka. Mereka mengikat perjanjian kontrak satu hari, dua hari dan seterusnya dan boleh untuk satu kali berhubungan saja (tidak ada bedanya dengan zina). Bahkan Khomaini di sebagian fatwanya membolehkan bermut’ah dengan pelacur !!!

Ketujuh, berusaha menjauhkan kaum Muslimin dan memberikan kesan buruk terhadap sebuah ajaran yang mereka benci yaitu Wahabi. Kalimat ini sering diulang-ulang, tanpa ada penjelasan terperinci, siapa dan apa ajaran Wahabi itu. Sehingga setiap ajaran dakwah atau yang berlawanan dengan Syi’ah dijauhi oleh kaum Muslimin.

Padahal sebenarnya, lafadz ini (Wahabi) disematkan oleh musuh-musuh Islam kepada ajaran dakwah al-Imam Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullâh. Lalu mereka memanfaatkannya untuk menjauhkan kaum Muslimin dari dakwah yang haq ini.

KEPADA SIAPA MEREKA MASUK ?

Sepanjang penelitian saya selama kurang lebih tiga puluh tahun tentang mereka secara berjauhan maupun berdekatan, saya melihat bahwa mereka memasuki semua lapisan masyarakat dengan cara-cara yang berbeda. Berikut perinciannya :

Tingkatan Pertama; Mereka mempegaruhi masyarakat awam dengan cara-cara yang dapat diterima oleh orang-orang awam. Dikalangan orang-orang awam ini, mereka tidak akan mampu mengkafirkan seluruh para sahabat karena orang-orang awam walaupun mereka beragama dengan cara taqlid buta, mereka sangat mencintai para sahabat. Kalau mereka langsung mengkafirkan atau mengkritik Abu Bakar radhiyallâhu’anhu, Umar radhiyallâhu’anhu, Utsmânradhiyallâhu’anhu dan para sahabat yang lainnya –radhiyallâhu’anhum– ditengah masyarakat awam, tentu mereka akan ditinggalkan.

Mereka mendekati masyarakat awam dengan cara mengkultuskan manusia atas nama ahlul bait. Bahkan mereka membuat berbagai bait-bait syair yang mengantarkan kepada pengkultusan terhadap Nabi. Mereka meninggikan Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam lebih tinggi dari yang telah tetapkan oleh Allâh Ta’âla, dengan cara tawassul ataupun istighatsah, yang berujung pada syirik besar.
Dimulai dari pendekatan dengan mengatasnamakan ahlul bait kemudian berlanjut dengan pemujaan terhadap manusia, yaitu dengan membangun kubur-kubur dan meminta kepada penghuni kubur serta penyebaran berbagai macam bid’ah lainnya.

Tingkatan kedua; Mendakwahi para pelajar khususnya mahasiswa. Untuk lapisan ini, mereka masuk lewat penyebaran nikah mut’ah karena para pemuda ini memang sangat aktif mencari hal-hal baru untuk kemudian dicoba. Setelah memberikan kenikmatan syaithaniyah, mereka mulai mendekati para pemuda ini dengan memberikan image (gambaran) bahwa ajaran Syi’ah itu benar dan lain sebagainya.
Oleh karena itu tokoh-tokoh mereka mengajar diberbagai perguruan tinggi untuk menjerat para mahasiswa yang mayoritasnya kosong dari ajaran Islam, aqidah shahihah serta tidak gemar duduk di majelis-majelis ilmu. Para mahasiswa ini terus didekati sampai akhirnya menjadi Rafidhah tulen dan diharapkan menjadi kaum intelektual yang memegang pemerintahan di negeri ini.

Ini harapan mereka, Semoga Allâh Ta’âla menghancurkan rencana buruk mereka.

Tingkatan Ketiga; Memasuki media masa, yang cetak maupun elektronik. Melalui media-media ini, mereka menampilkan tentang Rafidhah sedikit demi sedikit, dengan dalih sebagai khazanah islamiyah. Stasiun televisi tidak luput dari mereka.
Namun tentunya, mereka tidak terang-terangan membawakan ajaran mereka. Kecuali salah satu dari tokoh mereka yang pernah saya dengar langsung dengan telinga saya dan saya lihat dengan kedua mata saya bahwa dia mengatakan bahwa Abdullah bin Umar radhiyallâhu’anhuadalah seorang penakut (Allahu Akbar).

Orang yang hina ini telah merendahkan seorang sahabat mulia, alim lagi ‘âbid yang dikatakan oleh Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam :
hadits
“Sebaik-baik orang adalah Abdullah Bin Umar kalau sekiranya dia shalat malam.”
(HR Bukhari, no. 3738, 3739, 3740 dan 3741)

Sejak itu, Abdullah bin Umar tidak pernah meninggalkan shalat malam.
Tingkatan keempat; Mereka memberikan pengajaran kepada kaum intelektual khususnya kepada pendukung mereka yang saya istilahkan alumni dari orientalis. Mereka ini dididik, dijadikan anak angkat dan disusui oleh orang-orang Yahudi di negeri-negeri Barat yang notabene sangat membenci Islam. Mereka mendapat dukungan kuat sehingga paling tidak kaum intelektual ini bersikap netral atau toleran, tidak mempermasalahkan antara Sunni dengan Syi’ah.
Ini langkah pertama, langkah kedua dan selanjutnya, mereka mulai membuat program-program yang bisa menjebak tokoh-tokoh ini kedalam Râfidhah tulen.

Tingkatan kelima; Mendekati para pejabat negeri yang memegang tampuk pemerintahan untuk diberikan pelajaran-pelajaran tentang Syi’ah. Paling tidak, mereka merasa untung dan menang kalau pejabat ini mengetahui ajaran Râfidhah, apalagi mendukungnya.

Tingkatan keenam; Masuk ke partai politik dengan menjadi tim-tim sukses partai-partai politik.

Tingkatan ketujuh; Membuat pengajian-pengajian untuk ibu-ibu karena peran wanita sangat penting sekali dan sangat besar sekali. Oleh karena itu mereka membutuhkan ibu-ibu untuk mendukung ajaran mereka. Berdasarkan kenyataan ini, saya sering mengingatkan bapak-bapak agar hati-hati dan memperhatikan pengajian istrinya, jangan sampai istri-istri mereka terjebak dalam ajaran Syi’ah.

Barang kali ini yang bisa kita bahas sekilas tentang perkembangan dan gerakan Syi’ah di Indonesia. Mereka membuat tipu daya, semoga Allah menghancurkan tipu daya mereka. Dan, alhamdulillah saat ini perkembangan dakwah sunnah sangat mengkhawatirkan mereka.

[1]
Ini merupakan taqiyah mereka karena taqiyah adalah bagian dari agama mereka. Mereka mengatakan bahwa “Taqiyah (bohong) adalah agama kami.” Para pembaca dapat meruju’ ke muqodimah yang sangat berharga oleh al-imam as-salafi Muhibbudien al-Khatib dalam muqodimahnya terhadap kitab Adz Dzahabi yang meringkas kitab gurunya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah “Minhâjus Sunnah” dengan judul al-Muntaqa’
[2] Jangankan pemerintah bahkan sebagian besar tokoh agama pun tidak paham
[3] Untuk lebih mengetahui masalah ini, para pembaca bisa meruju’ ke kitab Prof. Ihsan Ilahi Dzhahir yang berjudul “Syiah dan Ahlul Bait”. Sebuah kitab yang sangat menarik karya seorang alim yang mengetahui tentang ajaran Syi’ah
[4] Para pembaca yang terhormat dapat merujuk kepada buku ustadz Ibnu Saini yang telah menulis dan menyingkap masalah sebenarnya tentang hal ini
[5] Dan faktanya, kaum Muslimin memang sangat awam sekali terhadap kitab-kitab tafsir. Oleh karena, seyogyalah kaum Muslimin, para tokohnya, asatidzah, dan pelajar meninggikan kitab-kitab tafsir ahlu sunnah yang berjalan diatas manhaj salafus shalih seperti tafsir al-Imam ath-Thabari, tafsir al-Haafidz Ibnu Katsir atau kitab tafsir sebelumnya yaitu tafsir Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

Perbedaan Islam dan Syi’ah Rafidhah Dalam Perkara Ushul (Pokok) dan Furu’ (Cabang)!

Istilah Syi’ah berasal dari kata tasyayyu’, yang berarti: membela, menolong. Sedangkan Syi’ah artinya: para penolong atau para pengikut. Dahulu, istilah Syi’ah digunakan bagi orang-orang yang membela Ali Radhiyallahu ‘anhu dan keluarganya, tetapi kemudian digunakan sebagai nama pada kelompok Rafidhah (Syi’ah Ja’fariyyah; Itsna ‘Aysariyyah) dan Zaidiyyah.

PERKEMBANGAN SYI’AH

Syi’ah melewati perkembangan-perkembangan sebagai berikut:

1. Dahulu, istilah Syi’ah (tasyayyu’) digunakan sebagai ungkapan kecintaan terhadap Ali Radhiyallahu ‘anhu dan keluarganya, tanpa merendahkan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain.

2. Kemudian berkembang sehingga melewati batas terhadap Ali Radhiyallahu ‘anhu dan sebagian anggota keluarganya, mencela sahabat Radhiyallahu ‘anhum, bahkan mengkafirkan mereka, disertai aqidah-aqidah lain yang bukan dari agama Islam sama sekali, seperti: taqiyyah, imamah, ‘ishmah, raj’ah, dan batiniyyah.

3. Kemudian di antara mereka ada yang menuhankan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu dan imam-imam setelahnya, berkeyakinan reinkarnasi dan aqidah-aqidah kufur lainnya, yang bertameng dengan tasyayyu’ (kecintaan terhadap Ali Radhiyallahu ‘anhu dan keluarganya).

FIRQAH-FIRQAH (KELOMPOK-KELOMPOK) SYI’AH

Firqah-firqah Syi’ah banyak sekali, sampai sebagian ulama menyebutkan bahwa mereka mencapai 300 firqah. Sedangkan di zaman ini, firqah mereka yang besar ada tiga, yaitu:

1. Kelompok Rafidhah, dikenal dengan nama Syi’ah Ja’fariyyah, karena menisbatkan kepada Ja’far Ash-Shadiq. Juga dikenal dengan nama Imamiyyah, dan Itsna ‘Aysariyyah, karena memiliki keyakinan imam dua belas. Kelompok inilah yang paling besar dewasa ini. Mereka sekarang berada di Iran, Irak, Syam, Libanon, Pakistan, Afghanistan Barat, Ahsa’, dan Madinah.

2. Zaidiyyah, mereka adalah para pengikut Zaid bin Ali bin Al-Husain. Mereka tinggal di Yaman.

3. Isma’iliyyah. Mereka menisbatkan kepada Isma’il bin Ja’far Ash-Shadiq dan meyakini keimamannya, sehingga disebut Isma’iliyyah. Mereka berada di Jazirah Arab Utara, Afrika Utara, Afrika Tengah, Syam, Pakistan, India, dan lainnya.
Selain kelompok di atas, ada kelompok Nushairiyyah, Duruz, Bahrah, Agha Khaniyyah, dan lainnya.

Karena kelompok Syi’ah terbesar sekarang ini adalah kelompok Rafidhah (Syi’ah Ja’fariyyah ; Itsna ‘Aysariyyah), maka kami akan memfokuskan pembicaraan ini tentang mereka.

USAHA RAFIDHAH MENDEKATI AHLUS SUNNAH

Semangat Rafidhah untuk memasukkan madzhabnya ke barisan madzhab-madzhab kaum muslimin begitu kuat, mereka menginginkan seandainya madzhab mereka disebut madzhab kelima di kalangan kaum muslimin. Oleh karena itu mereka berusaha mensukseskan program mereka “taqrib (pendekatan) antara Sunnah dan Syi’ah” dengan berbagai cara. Tidak diragukan lagi bahwa persatuan kaum muslimin merupakan perkara yang wajib diwujudkan, tetapi hal itu haruslah tegak di atas fondasi-fondasi kebenaran.

Usaha-usaha Rafidhah itu sempat menjadikan sebagian kaum muslimin terkecoh karenanya. Padahal seandainya mereka mengetahui hakekat agama Rafidhah, mereka pasti akan lari menjauhi dengan ketakutan!

KESESATAN RAFIDHAH

Ketahuilah wahai saudara-saudaraku, bahwa terdapat jurang perbedaan yang sangat besar antara Ahlus Sunnah dengan Rafidhah, sehingga mustahil untuk disatukan! kecuali yang satu berpindah kepada agama yang lain!

Inilah perbedaan-perbedaan mendasar tersebut, yang sekaligus sebagai kesesatan-kesesatan mereka!:

1. Mereka berkeyakinan, -dengan dinisbatkan kepada para imam mereka- bahwa mereka memiliki Al-Qur’an yang berbeda dengan yang dimiliki kaum muslimin.

a). Mereka meriwayatkan dari Abu Abdullah, yang berkata: “Al-Qur’an yang dibawa oleh Jibril Alaihissallam kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 17 ribu ayat”. [Al-Kaafi fil Ushul II/634, Cetakan Teheran, Iran]

b). Dalam riwayat mereka yang lain disebutkan bahwa Abu Abdullah berkata : “Pada fihak kami sesungguhnya ada mushhaf Fatimah. Tahukan mereka apakah mushhaf Fatimah itu? Jawabnya: “Mushhaf Fatimah itu isinya tiga kali dibanding dengan Al-Qur’an kalian ini. Demi Allah, tidak satupun huruf dari Al-Qur’an tersebut, terdapat dalam Al-Qur’an kalian.” [Al-Kaafi fil Ushul II/240-241, Cetakan Teheran, Iran]

Bantahan.

Inilah keyakinan Rafidhah terhadap Al-Qur’anul Karim, keyakinan yang dapat mengeluarkan pelakunya dari agama Islam. Keyakinan adanya perubahan di dalam Al-Qur’an ini tersebar di dalam buku-buku induk mereka! Mungkinkah kelompok yang memiliki keyakinan kufur seperti ini dianggap sebagai madzhab kelima di kalangan kaum muslimin?!

Padahal Allah Ta’ala telah memberikan jaminanNya terhadap kebenaran Al-Qur’an, Dia berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. [Al Hijr/15:9]

Sebagian mereka membantah dengan mengatakan bahwa : “Keyakinan perubahan terhadap Al-Qur’an adalah tuduhan musuh-musuh Syi’ah, sedangkan kami (orang-orang Syi’ah) tidak mempercayainya. Buktinya mushhaf yang dicetak dan dibaca oleh orang-orang Syi’ah sama dengan mushhaf Al-Qur’an yang dimiliki oleh kaum muslimin yang lain.”

Bantahan.

Bahwa anda –dan sebagian ulama Syi’ah- tidak meyakini adanya perubahan di dalam Al-Qur’an, itu adalah hak anda. Tetapi kenyataannya hal itu tertulis di dalam kitab-kitab utama dan dipercayai di kalangan Rafidhah, sehingga hal itu merupakan keyakinan Rafidhah. Kalau memang anda tidak memiliki keyakinan tersebut, sebaiknya anda keluar dari kelompok Rafidhah yang memiliki kitab-kitab pegangan yang berisikan hal tersebut. Atau itu sekedar taqiyah (menampakkan sesuatu yang berbeda dengan keyakinannya)??Dan inilah jawaban tentang keadaan orang-orang Rafidhah yang menggunakan Al-Qur’an yang sama dengan mush-haf kaum muslimin.

Salah seorang pemimpin Rafidhah, bernama Ni’matullah Al-Jazairi, menyatakan: “Jika anda bertanya, mengapa kami dibenarkan membaca Al-Qur’an ini, padahal telah mengalami perubahan? Saya menjawab: “Telah diriwayatkan di dalam banyak riwayat bahwa para imam Syi’ah menyuruh golongan mereka untuk membaca Al-Qur’an yang ada ditangan umat Islam di waktu shalat dan lain-lain, dan melaksanakan hukum-hukumnya, sampai kelak datang waktunya pemimpin kita, Shahibuz Zaman, muncul lalu menarik beredarnya Al-Qur’an yang ada ditangan umat Islam ini ke langit, dan mengeluarkan Al-Qur’an yang dahulu disusun oleh Amirul Mukminin as, lalu Al-Qur’an inilah yang dibaca dan diamalkan.” [Al-Anwar An-Nu’maniyyah II/363-364, Cetakan: Teheran]

Ketahuilah, bahwa sebab yang mendorong Rafidhah berkeyakinan adanya perubahan terhadap Al-Qur’an adalah karena keyakinan pokok mereka, yaitu tentang keimaman 12 imam versi mereka tidak disebut di dalam Al-Qur’an, demikian juga di dalam Al-Qur’an penuh pujian dan sanjungan terhadap para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal para sahabat adalah orang-orang yang menjadi sasaran caci-maki mereka! Maka untuk meyakinkan para pengikut, mereka menyatakan bahwa ayat tentang tentang keimaman dan celaan terhadap para sahabat telah dibuang! Tetapi pernyataan itu tentulah akan membongkar kekafiran mereka, karena mengaggap adanya perubahan dalam Al-Qur’an merupakan kekafiran, maka merekapun berusaha untuk mengingkari hal tersebut.

Akan tetapi riwayat-riwayat yang menyatakan perubahan di dalam Al-Qur’an tersebar luas di dalam kitab-kitab mereka. Kemudian di antara peristiwa yang membongkar kesesatan dan kekafiran mereka adalah munculnya sebuah kitab yang ditulis oleh salah seorang tokoh besar mereka yang berjudul “Fash-lul Khithab fii Tahriifi Kitabi Rabbil Arbab” (Kata Pemutus Tantang Adanya Perubahan di Dalam Kitabnya Pengasa Makhluk (kitab Al-Qur’an)). Penulisnya, yang bernama Mirza Taqiyy An-Nuuri Ath-Thibrisi menetapkan mutawatirnya riwayat adanya perubahan dalam Al-Qur’an (yang merupakan keyakinan kekafiran yang nyata dan membongkar kedustaan mereka!!!) di dalam kitab-kitab Rafidhah, dan dia mengakui bahwa para ulama mereka mengimani terhadap kekafiran ini! [Lihat Al-Mujaz fil Adyan wal Madzahib Al-Mu’ashirah, hal: 125, karya DR. Nashir bin Abdullah Al-Qifari dan DR. Nashir bin Abdul Karim Al-‘Aql]

2. Mereka Memiliki Keyakinan Syirik Terhadap Para Imam Mereka.

Keyakinan-keyakinan syirik yang bertebaran di dalam kitab-kitab induk mereka sangat banyak, keyakinan-keyakinan syirik yang lebih sesat dari orang-orang musyrik di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena orang-orang musyrik dahulu meyakini keesaan Allah di dalam rububiyahNya, sedang keyakinan syirik orang-orang Rafidhah adalah di dalam rububiyahNya. Inilah di antara keyakinan-keyakinan sesat mereka itu:

a). Diriwayatkan dari Abu Abdullah, yang berkata: “Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui segala yang di langit dan di bumi, serta segala yang di surga dan di neraka, dan apa yang telah terjadi, serta sedang dan akan terjadi.” [Al-Kaafi fil Ushul I/261, Cetakan: Teheran]

b). Juga diriwayatkan dari Abu Abdullah, yang berkata: “Sesungguhnya dunia ini milik imam, dan akhiratpun milik imam. Dia meletakkannya di mana ia kehendaki dan memberikannya kepada siapa yang ia kehendaki.” [Al-Kaafi fil Ushul I/409, Cetakan:Teheran]

Bantahan:

Keyakinan yang tertulis di dalam kitab mereka itu adalah keyakinan syirk yang mengeluarkan dari agama Islam, dan merupakan keyakinan yang sangat bertentangan dengan Al-Qur’an, kitab Suci Allah Ta’ala!! Dia berfirman:

إِنَّ اللهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي اْلأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim.Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok.Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. [Luqman/31:34]

Allah juga berfirman.

فَلِلَّهِ اْلأَخِرَةُ وَاْلأُولَى

(Tidak), maka hanya milik Allah-lah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia. [An Najm/53:25]

Sebenarnya masih banyak lagi keyakinan syirik yang tersebut di dalam kitab-kitab induk mereka, tetapi yang sedikit itupun telah mencukupi bagi orang yang cerdik!

3. Mereka Mengkafirkan Seluruh Sahabat, Kecuali Beberapa Orang Saja, Yaitu: Ali, Al-Miqdad, Salman Al-Farisi, Abu Dzarr, dan ‘Ammar bin Yasir.

a). Salah seorang tokoh mereka bernama Salim bin Qais Al-Kufi Al-Hilali Al-‘Amiri berkata di dalam bukunya “As-Saqifah (kitab Wafatnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam)”, hal: 92 : “…Salman berkata: ‘Ali berkata: “Sesungguhnya seluruh manusia murtad setelah wafat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali 4 orang.”

b). Pada halaman lain disebutkan dari Ibnu Abbas: “Wahai saudara-saudaraku, pada hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, tidaklah beliau diletakkan di kubur beliau, sehingga orang-orang memecahkan janji dan murtad, serta mereka sepakat untuk menyelisihi”. [As-Saqifah, hal:249, karya Salim bin Qais Al-Kufi Al-Hilali Al-‘Amiri; juga semisalnya diriwayatkan oleh Al-Kulaini di dalam Ar-Raudhah minal Kafi, VIII/245, 296, dari Abu Ja’far]

c). Diriwayatkan dari Ja’far Ash-Shadiq, dia berkata: “Sesungguhnya seluruh manusia murtad setelah wafat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali segelintir orang saja.” [Al-Ushul minal Kafi II/319-320]

d). Pada riwayat lain disebutkan: “Seluruh manusia binasa …kecuali 3 orang.” [Ar-Raudhah minal Kafi, hal:361, karya Al-Kulaini]

Dengan keyakinan di atas maka tidaklah aneh jika kemudian mereka mecela para sabahat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Celaan yang membawa kepada kekafiran!!

Bantahan:

Kalau benar keyakinan mereka itu, berarti ummahatul mukminin (para istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan para sahabat semua murtad dan menjadi kafir menurut mereka. Ini adalah keyakinan yang sangat munkar, keji, dan bertentangan dengan puluhan ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits shahih yang memuji para sahabat.

Allah berfirman bahwa para sahabat adalah ummat terbaik.

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. [Al Imran/ 3:110]

Kalau mereka dipuji oleh Allah sebagai umat yang terbaik, maka bolehkah berkeyakinan kalau mereka murtad?! Tidak, karena itu adalah keyakinan kufur!
Allah juga meridhai para sahabat, dari kalangan Muhajirin dan Anshar, dengan firmanNya:

وَالسَّابِقُونَ اْلأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. [At Taubah/9:100]

Dia juga berfirman.

لَّقَدْ رَضِىَ اللهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَافِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ السَّكِينَة عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). [Al Fath/48:18]

مُّحَمَّدُُ رَّسُولُ اللهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّآءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللهِ وَرِضْوَانًا

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka: kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. [Al Fath/48:29]

Kalau mereka diridhai oleh Allah dan dijanjikan masuk sorga, maka bolehkah berkeyakinan kalau mereka murtad?! Tidak, karena itu adalah keyakinan kufur!
Banyak di antara mereka yang mengingkari bahwa mereka mengkafirkan sahabat dan mencela mereka, tetapi bukti-bukti tertulis yang ada di dalam kitab-kitab induk mereka tidak dapat dihilangkan hanya dengan pengingkaran lesan saja!

Inilah sebagian kesesatan mereka, belum lagi kesesatan-kesesatan lain yang ada pada mereka, seperti: keyakinan mereka mengagungkan tempat-tempat gugurnya orang tertentu dan kubur-kubur; mengbolehkan nikah mut’ah bahkan meyakini keutamaannya; danlain-lain. Yang sedikit itu sesungguhnya sudah mencukupi bagi orang yang cerdik.

PERKATAAN PARA ULAMA TENTANG RAFIDHAH

Telah terjadi perselisihan antara Ahlus Sunnah dengan Rafidhah semenjak zaman dahulu, dan Salafush Shalih telah membantah mereka di zaman itu. Inilah para ulama yang tercatat membantah Rafidhah:

1. Imam Malik rahimahullah. Beliau ditanya tentang Rafidhah, beliau menjawab: “Janganlah kamu berbicara dengan mereka, dan janganlah kamu meriwayatkan dari mereka, karena mereka berdusta.” [Minhajus Sunnah I/59]
Beliau juga berkata: “Orang yang mencela para sahabat Nabi, maka dia tidak termasuk golongan Islam.” [As-Sunnah II/557, karya Al-Khallal]

2. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Aku tidak pernah melihat seorangpun lebih berani bersaksi palsu daripada Rafidhah”. [Riwayat Al-Lalikai di dalam Syarh Ushul I’tiqad VIII/1457; Abu Hatim Ar-Razi di dalam Aadab Asy-Syafi’I wa Manaqibuhu, hal:187-189; dan Abu Nu’aim di dalam Al-Hilyah IX/114; serta disebutkan oleh Ibnu Taimiyah di dalam Minhajus Sunnah I/60 dan Adz-Dzahabi di dalam Siyar X/89]

3. Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Barangsiapa mencela sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kami khawatir dia keluar dari Islam.” [As-Sunnah II/558, karya Al-Khallal]

4. Imam Bukhari rahimahullah berkata: “Bagiku sama saja, apakah aku shalat di belakang orang yang berfaham Jahmiyyah atau Rafidhah, atau aku shalat di belakang orang Yahudi atau Nashrani. Dan seorang muslim tidak boleh memberi salam kepada mereka, menjenguk mereka ketika sakit, kawin dengan mereka, menjadikan mereka sebagai saksi, dan memakan sembelihan mereka.” [Khalqu Af’alil ‘Ibad, hal:125, karya Imam Bukhari]

5. Imam Abdurrahman bin Mahdi bin Hasan bin Abdurahman Al-‘Ambari Al-Bashri rahimahullah, salah seorang imam Ahli Hadits ternama, wafat Th 198H. Beliau berkata: “Dua hal ini (mengingkari kejujuran sahabat dan mengangap mereka murtad) merupakan agama golongan Jahmiyyah dan Rafidhah.” [Khalqu Af’alil ‘Ibad, hal:125, karya Imam Bukhari]

6. Imam Muhammad bin Yusuf Al-Faryabi rahimahullah, salah seorang ahli hadits terpercaya, dan terbaik di zamannya, wafat Th 212H, imam Bukhari meriwayatkan 26 hadits darinya. Ketika ditanya tentang orang yang mencela Abu Bakar, beliau menjawab: “Dia kafir.” [As-Sunnah VI/566, karya Al-Khallal; Ash-Sharimul Maslul, hal:570, karya Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah]

7. Ahmad bin Yunus rahimahullah, salah seorang tokoh ulama Ahlus Sunnah di Kufah, wafat th. 227H. Beliau berkata: “Seandainya seorang Yahudi menyembelih seekor binatang, dan seorang Rafidhi (Syi’ah) menyembelih seekor binatang, niscaya aku hanya memakan sembelihan si Yahudi, dan aku tidak mau memakan sembelihan si Rafidhi karena dia telah murtad dari Islam.” [Ash-Sharimul Maslul, hal:570, karya Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah]

Selain perkataan para ulama di atas, masih banyak lagi perkataan para ulama yang menyatakan kesesatan Rafidhah, di antaranya:

8. Abu Zur’ah Ar-Razi rahimahullah. Seorang tokoh ahli hadits, hafal 100 ribu hadits, sehingga ada yang berkata: “Setiap hadits yang tidak dikenal oleh Abu Zur’ah, maka hadits itu tidak memiliki asal usul.” Beliau wafat Th 227 H.

9. Ibnu Qutaibah rahimahullah, salah seorang ulama terkenal yang banyak karya-karyanya, wafat Th 276 H.

10. Abdul Qadir Al-Baghdadi rahimahullah, salah seorang tokoh ulama terkenal, wafat Th 429 H.
11. Al-Qadhi Abu Ya’la rahimahullah, seorang ‘alim masalah aqidah dan syari’ah di masanya, wafat Th 458 H
12. Al-Asfarayaini rahimahullah, seorang tokoh terkenal yang banyak karya-karyanya, wafat Th 471 H
13. Abu Hamid Al-Ghazali rahimahullah, wafat Th 505H.
14. Ibnu Hazm rahimahullah.
15. Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah. Seorang tokoh ahli hadits di zamannya, dari Maghribi, wafat Th 544 H
16. As-Sam’ani rahimahullah, tokoh penghafal hadits, yang banyak karya-karyanya, wafat Th 562 H.
17. Fakhrur Razi rahimahullah seorang tokoh terkenal, wafat Th 606 H.
18. Al-Qurthubi rahimahullah di dalam Tafsirnya.
19. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.
20. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah.
21. Imam Adz-Dzahabi rahimahullah.
22. Imam Ibnu Katsir rahimahullah.
23. Syaikh Al-Alusi rahimahullah.
24. Syaikh Ali bin Sulthan bin Muhammad Al-Qaari rahimahullah
25. Abul Mahasin Yusuf Al-Wasithi rahimahullah
26. Syeikh Syah Abdul Azizi Ad-Dahlawi rahimahullah
27. Muhammad Ali Asy-Syaukani rahimahullah
28. DR. Taqiyyuddin Al-Hilali Al-Husaini rahimahullah.
29. Syaikh Muhammad Bahjah Al-Baithar rahimahullah.
30. Syaikh Muhammad Rasyid Ridha rahimahullah.
31. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah.
32. Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi rahimahullah.
33. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah
34. Syaikh Mushthafa al-Adawi.
35. Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari. Dan lainnya.

PENUTUP.

Setelah kita mengetahui sedikit saja tentang kesesatan Rafidhah, dan bahwa mereka adalah orang-orang yang dikenal berdusta di kalangan para ulama, maka janganlah kita terkecoh oleh mereka.

Kami sebutkan di sini, -sebagai nasehat dan peringatan, sesungguhnya peringatan itu berguna bagi orang-orang yang beriman- di antara orang yang terkecoh dan memuji-muji Syiah adalah seorang penulis Indonesia, yang banyak buku-bukunya, yaitu Prof. Dr. Abu Bakar Aceh di dalam bukunya yang berjudul Syi’ah, Rasionalisme dalam Islam. Di dalam bukunya tersebut Prof. meruju’ kepada berbagai buku-buku yang ditulis oleh orang-orang Syia’h, bahkan sempat memuji-muji kitab Muraja’at karya Abdul Husain Syarafuddin Al-Musawi (Pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Mizan Bandung dengan judul: Dialog Sunnah Syi’ah) .

TAMBAHAN

Cobalah dengar perkataan seorang Ahli hadits yang diakui ilmunya tentang kitab yang sempat mengecoh sang Prof. tersebut , inilah di antara perkataan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah tentang buku tersebut beserta pengarangnya.

1. Setelah menjelaskan palsunya sebuah hadits tentang keutamaan sahabat Ali Radhiyallahu ‘anhu di dalam kitab Silsilah Ahadits Adh-Dha’ifah no:892, Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata: “Sesungguhnya ada beberapa sebab yang mendorongku mentakhrij hadits ini, mengkritiknya, dan membongkar cacatnya, di antaranya : Aku melihat seorang Syaikh yang bernama Abdul Husain Syarafuddin Al-Musawi seorang Syi’ah telah menyebutkan hadits ini di dalam kitab Muraja’at karyanya, hal:27. Dia mentakhrij hadits ini menipu para pembaca bahwa hadits ini adalah shahih, sebagaimana kebiasaannya di kalangan orang-orang yang semisalnya.” [Silsilah Ahadits Adh-Dha’ifah II/295, Penerbit:Maktabul Ma’arif, Riyadh, Cet:5, Th:1412 H]

2. Kitab Muraja’at karya seorang Syi’ah tersebut dipenuhi oleh hadits-hadits lemah dan palsu tentang keutamaan Ali Radhiyallahu ‘anhu. Demikian pula disertai kebodohan terhadap ilmu (hadits) yang mulia ini, penipuan terhadap para pembaca, penyesatan dari al-haq yang nyata, bahkan kedustaan terang-terangan. Yang hampir-hampir tidak terlintas pada fikiran pembaca yang mulia bahwa ada seorang di antara para penulis terjerumus ke dalam keadaan semisalnya. Oleh karena inilah, tekadku kuat untuk mentakhrij hadits-hadits itu –walaupun jumlahnya banyak-, dan menjelaskan cacat-cacat dan kelemahannya, serta membongkar perkataan orang Syi’ah tersebut terhadap hadits-hadits itu, perkataannya yang berupa penipuan dan penyesatan.” [Silsilah Ahadits Adh-Dha’ifah II/297, Penerbit:Maktabul Ma’arif, Riyadh, Cet:5, Th:1412 H]

Inilah perkataan seorang yang ahli dan terpercaya mudah-mudahan membuka mata sebagian kaum muslimin yang tertipu dengan ulah orang-orang Rafidhah yang berusaha mengecoh mereka dengan perbuatan seperti di atas!
Wahai Allah tunjukkanlah al-haq kepada kami sebagai al-haq sehingga kami dapat mengikutinya.

Dan tunjukkanlah kesesatan kepada kami sebagai kesesatan sehingga kami dapat mengikutinya. Wallahu A’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun V/1422H/2001M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo